Food Estate, Bioetanol, dan Kebohongan Bernama Keberlanjutan

Pemerintah Indonesia mencanangkan Proyek Strategis Nasional untuk ketahanan pangan dan energi dengan membuka hutan tropis Papua seluas 2,5 juta hektar menjadi ladang tebu, singkong, dan sawit. Luas itu bukan angka kecil. Hampir lima kali luas Kota Hamburg dan lebih dari setengah luas negara bagian Niedersachsen di Jerman. Mengerikan, bukan?

Di layar film Pesta Babi, hutan Papua tampak sunyi. Namun kesunyian itu sebenarnya penuh suara: bunyi tractor beko, chainsaw, tanah yang dibuka, sungai yang perlahan hilang, dan kehidupan yang dipaksa menyingkir.

Film itu bukan sekadar dokumenter tentang Papua. Ia adalah cermin tentang bagaimana zaman ini memahami “pembangunan” dan “keberlanjutan”.

Sebagai peneliti di bidang Sustainability Science, saya melihat sebuah paradoks yang semakin nyata: proyek-proyek yang diklaim sebagai solusi masa depan justru sering menghancurkan fondasi ekologis yang menopang kehidupan itu sendiri.

Food estate dan proyek bioetanol hadir dengan bahasa yang terdengar mulia: ketahanan pangan, transisi energi, energi hijau, hilirisasi, dan masa depan berkelanjutan. Namun di banyak tempat, terutama di Papua, istilah-istilah itu diterjemahkan menjadi pembukaan hutan besar-besaran, monokultur, dan hilangnya biodiversitas.

Di sinilah ironi besar itu muncul.

Kita hidup di masa ketika hutan ditebang atas nama masa depan hijau.

Papua bukan ruang kosong. Hutan Papua bukan “lahan tidur” yang menunggu untuk dioptimalkan. Ia adalah salah satu benteng biodiversitas terbesar di dunia—rumah bagi spesies endemik, penyimpan karbon alami, sekaligus ruang hidup masyarakat adat yang memiliki relasi panjang dengan tanahnya.

Namun dalam logika pembangunan modern, hutan sering direduksi menjadi angka produksi: berapa ton pangan yang dihasilkan, berapa liter etanol yang diproduksi, dan berapa persen pertumbuhan ekonomi yang bisa dicapai.

Yang hilang dari perhitungan itu adalah kehidupan itu sendiri.

Biodiversitas tidak hanya berarti banyaknya spesies. Ia adalah jaringan kehidupan yang saling menopang. Ketika hutan dibuka untuk monokultur skala besar, yang hilang bukan hanya pohon. Yang hilang adalah burung, serangga, tanah, air, pengetahuan lokal, hingga relasi manusia dengan lanskap tempat mereka hidup selama generasi.

Ironisnya, kerusakan ekologis itu sering dibenarkan dengan istilah-istilah teknokratis yang terdengar netral:

“Lahan cadangan.”
“Optimalisasi.”
“Pembangunan strategis.”
“Energi terbarukan.”

Bahasa semacam ini membuat penghancuran ekologis tampak administratif. Seolah-olah yang sedang dibicarakan hanyalah peta dan angka, bukan hutan yang hidup.

Film Pesta Babi memperlihatkan sesuatu yang jarang muncul dalam laporan kebijakan: bahwa krisis ekologis selalu memiliki wajah manusia. Ada masyarakat yang kehilangan tanah, ada kampung yang berubah, dan ada ketakutan yang tumbuh perlahan ketika alat-alat berat masuk ke ruang hidup mereka.

Dan mungkin di situlah kritik paling penting terhadap banyak proyek “hijau” hari ini. Kita terlalu sibuk membicarakan masa depan energi dan pangan, tetapi lupa bertanya: masa depan untuk siapa?

Dalam banyak budaya Papua, pesta babi adalah simbol relasi sosial, perdamaian, dan kehidupan kolektif. Namun dalam konteks hari ini, judul Pesta Babi terasa seperti metafora pahit tentang sebuah zaman ketika tanah, hutan, dan manusia diperlakukan sebagai bagian dari pesta pembangunan yang mereka sendiri tidak pernah benar-benar diundang.

Jika keberlanjutan dibangun dengan menghancurkan hutan terakhir yang kita miliki, lalu apa sebenarnya yang sedang kita selamatkan?

Comments

Tinggalkan Komentar

Email Anda aman bersama kami.