Ayang Sayang

Romantika Melayu yang Menolak Punah di Tangan Dispora di Jerman

Jika mendengar nama Musa Sitompul dalam percakapan antar diaspora Indonesia di Hamburg, namanya tentu sudah tidak asing lagi. Bagi banyak perantau di kota pelabuhan terbesar Jerman itu, beliau bukan sekadar penyanyi, melainkan “opung” bagi komunitas diaspora yang telah lama hidup jauh dari tanah kelahiran.
Jejak hidup Opung Musa adalah kisah panjang para pelaut Nusantara di Eropa. Sejak melangkahkan kaki ke benua Eropa pada era 1970-an, perjalanan hidupnya dimulai dari Hamburg, Jerman, hingga Athena, Yunani, sebelum akhirnya menjelajahi berbagai belahan dunia melalui lautan. Di tengah kerasnya hidup sebagai pelaut, musik menjadi teman setia yang menemani malam-malam panjang di atas kapal.
Pada tahun 2026, penulis sempat bertemu langsung dalam proses rekaman lagu “Ayang Sayang”, sebuah karya yang dimotori Bang Uluna Ginting sebagai produser, dengan Bang Eddie sebagai penulis lagu. Pertemuan itu memperlihatkan satu hal yang jarang ditemukan hari ini: ketulusan seorang perantau lama yang tetap membawa suara kampung halamannya ke mana pun ia pergi.
Dan memang tidak salah. Suara serak berpasir khas Opung Musa, meski usia sudah tidak muda lagi, justru menyatu kuat dengan lantunan melodi Melayu. Ada rasa yang tidak dibuat-buat di dalamnya. Setiap bait terdengar seperti cerita perjalanan hidup yang panjang; tentang rindu, tentang pelabuhan, dan tentang kampung halaman yang tidak pernah benar-benar jauh dari ingatan.
Lagu “Ayang Sayang” seakan membawa para pendengar pulang sejenak ke kampung kecil masing-masing. Entah itu ke Tiga Binanga, Tangkahan, ataupun pelosok kampung para pendengar. Di tengah kehidupan diaspora yang serba modern dan cepat di Eropa, musik Melayu seperti ini menjadi ruang nostalgia yang hangat, menghubungkan kembali para perantau dengan akar budayanya.
Hamburg mungkin berada ribuan kilometer dari Sumatera Utara. Namun selama lagu-lagu seperti “Ayang Sayang” masih dinyanyikan, musik Melayu tampaknya belum akan kehilangan tahtanya di hati diaspora
“Ayang Sayang” tidak mencoba menjadi modern secara berlebihan. Di situlah kekuatannya. Lagu ini berdiri di atas tradisi: lirik yang sederhana, permainan melodi yang mengalun tanpa tergesa, serta rasa rindu yang disampaikan tanpa perlu dramatisasi berlebihan. Musa Sitompul seolah memahami bahwa musik Melayu tidak dibangun dari gebrakan, melainkan dari perasaan yang perlahan masuk ke dalam ingatan pendengarnya. Ia menjadi penghubung emosional dengan tanah asa, mengingatkan pada pesta keluarga, suara radio kampung, atau perjalanan malam yang ditemani lagu-lagu Melayu lama.
Di Eropa, ketika identitas budaya sering dinegosiasikan ulang oleh para perantau, musik Melayu menjadi bentuk kecil dari ketahanan budaya. Lagu seperti “Ayang Sayang” mengingatkan bahwa romantika Melayu belum hilang; ia hanya berpindah ruang, dari kampung-kampung pesisir di Tangkahan menuju apartemen kecil diaspora di Hamburg, bahkan di desa kecil di Wittorf, Jerman.
Ada nostalgia di dalamnya, tetapi bukan nostalgia yang pasif. Lagu ini terasa seperti upaya mempertahankan bahasa emosi Melayu agar tetap hidup di generasi baru. Dan di tangan Musa Sitompul, usaha itu terdengar tulus dan tentunya membuat pendengar “berjoget”..
“Ayang Sayang” mungkin tidak hadir dengan ambisi menjadi lagu viral internasional. Namun justru karena itu ia punya umur yang panjang. Ia tidak mengejar tren, tetapi ia menjaga rasa.
Dan bagi diaspora Melayu di Eropa, terkadang itu lebih penting daripada sekadar popularitas.

Lüneburg, 11 Mei 2026

Comments

One response to “Ayang Sayang”

Tinggalkan Komentar

Email Anda aman bersama kami.